Usai Sukses Antar Persibangga Juara Liga 4 Jateng, Manajer Hamzah Asadullah Mundur
PURBALINGGA – mempersembahkan gelar juara, pria yang juga tercatat sebagai Manajer Team tersebut merasa masih terdapat berbagai kekurangan dan target yang belum dapat dipenuhi secara optimal selama masa kepemimpinannya
"Saya merasa belum mampu memberikan kontribusi terbaik sebagaimana harapan besar masyarakat Purbalingga terhadap Persibangga," tulis Hamzah dalam surat pernyataannya
Hamzah yang juga akrab disapa Mansor Persibangga ini menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh elemen pendukung tim. Permohonan maaf tersebut ditujukan kepada masyarakat Purbalingga, para suporter fanatik, jajaran pemain dan ofisial, para sponsor, serta seluruh pihak yang telah memberikan dukungan dan kerja sama selama ini.
Di tengah pamitnya dari kursi manajer, Hamzah tetap menyematkan harapan besar kepada tim kebanggaan masyarakat Purbalingga tersebut. Ia berharap Persibangga dapat terus berbenah, berkembang, dan kembali meraih prestasi yang lebih membanggakan di masa mendatang. Menurutnya, dukungan dan doa dari seluruh masyarakat Purbalingga akan tetap menjadi fondasi utama bagi kebangkitan tim.

Kabar mengejutkan ini tentu menjadi catatan tersendiri bagi pengelola klub yang beralamat di Jl Raya Mayjen Sengkono tersebut. Publik Purbalingga kini menanti langkah selanjutnya dari manajemen klub dalam menyikapi kekosongan posisi manajer pasca ditinggal sosok yang baru saja mengantarkan tim meraih sukses di level regional.
Sebelumnya diberitakan Polemik pascagelar juara Liga 4 Jawa Tengah 2025/2026 yang diraih Persibangga Purbalingga memasuki babak baru.
Setelah keluhan pemain viral di media sosial, manajer Persibangga, Hamzah Asadullah, akhirnya buka suara dan membeberkan anggaran operasional tim.
Ia menegaskan, sejak awal diamanahi mengelola tim, targetnya jelas membawa Persibangga promosi ke Liga 3.
“Kami juga berkomitmen untuk mensupport Persibangga dengan semaksimal mungkin, baik mensupport pemain, pelatih, operasional, dan keseluruhannya,” katanya, Rabu (17/2/2026).
Hamzah mengklaim manajemen mengeluarkan anggaran sedikitnya Rp400 juta per bulan untuk kebutuhan tim. Dana tersebut digunakan untuk gaji, makan, penginapan, transportasi, bonus, hingga operasional lainnya.
“Ada bukti untuk semua pengeluaran. Kami tidak pernah menunggak gaji, selalu memberikan fasilitas makanan, penginapan, dan bonus saat menang,” tegasnya.
Ia merinci bonus kemenangan, termasuk saat Persibangga menang 4-1 atas Persibas dengan bonus Rp25 juta di luar gaji. Di babak 16 besar, 8 besar, semifinal hingga final, manajemen disebut memberikan bonus sedikitnya Rp30 juta setiap kali tim lolos ke fase berikutnya.
Menurutnya, manajemen bahkan telah menyiapkan bonus lebih besar untuk kemenangan final Liga 4 Jawa Tengah. Namun di tengah euforia itu, muncul isu kekecewaan pemain terkait tambahan masa menginap di Semarang.
Hamzah menjelaskan, sebelum final di Stadion Jatidiri, pelatih dan pemain meminta berangkat H-2, bukan H-1 seperti biasa. Permintaan itu dikabulkan agar pemain bisa beristirahat lebih maksimal sebelum laga puncak.
Setelah pertandingan, manajemen meminta tim langsung kembali ke Purbalingga untuk konvoi karena momentum libur dan menjelang Ramadan. Namun, pemain dan pelatih disebut ingin tetap menginap satu malam lagi di Semarang.
“Kami sangat bersedih dengan isu dan berita yang beredar berkaitan dengan Persibangga,” ungkapnya.
Ia menegaskan, manajemen tidak mengambil keuntungan pribadi dari pengelolaan tim.
“Seluruhnya yang didapat dikembalikan untuk kebutuhan Persibangga. Bahkan kita masih perlu support juga untuk kebutuhan Persibangga di babak nasional,” tegasnya.