Jalan Kabupaten Rusak Parah Di Panusupan, Usulan Desa Tiga Bulan Mengendap Tanpa Respons
Kerusakan parah jalan kabupaten yang melintas di wilayah Desa Panusupan, Kabupaten Purbalingga, kian memantik keresahan warga. Jalan yang menjadi akses vital aktivitas ekonomi, pendidikan, dan mobilitas harian itu dilaporkan mengalami kerusakan berat sejak longsor terjadi sekitar Oktober lalu. Ironisnya, hingga kini belum terlihat langkah konkret dari pemerintah kabupaten, meski pemerintah desa mengaku telah berulang kali mengajukan permohonan perbaikan secara resmi.
Kepala Desa Panusupan menyampaikan bahwa pemerintah desa mengetahui secara langsung kondisi kerusakan tersebut karena setiap hari melintasi jalan itu. "Kami melihat sendiri mas, karena setiap hari melintas. Kondisinya memang rusak parah," ujarnya.
Keluhan warga, menurut penuturan salah satu warga, sudah disampaikan sejak awal kerusakan terjadi. "Sejak jalan itu longsor sekitar bulan Oktober, warga sudah banyak mengeluh," katanya.

Dampak kerusakan jalan ini tidak bisa dianggap sepele. Pemerintah desa menyebut seluruh aspek kehidupan warga terdampak. "Semua terdampak mas," kata Kepala Desa, singkat namun tegas. Aktivitas ekonomi tersendat, akses pendidikan terganggu, dan risiko keselamatan pengguna jalan meningkat tajam.
Meski jalan tersebut merupakan kewenangan pemerintah kabupaten, pemerintah desa mengaku tidak tinggal diam. Kepala Desa Panusupan menegaskan bahwa pihaknya bersama desa-desa lain yang dilintasi jalur tersebut telah mengirimkan surat resmi kepada pemerintah daerah dan dinas terkait sejak beberapa bulan lalu. "Kami sudah bersurat resmi, sudah sekitar tiga bulan, tapi belum ada respons apa pun," ungkapnya.

Ketiadaan tanggapan ini menimbulkan tanda tanya besar di tengah masyarakat, terlebih saat pemerintah desa menyebut telah melakukan koordinasi lintas pihak dan bahkan mengambil langkah darurat dengan kemampuan terbatas. "Kami sudah melakukan penanganan sementara, seperti menambal bagian jalan yang retak berat dan anjlok, demi keselamatan warga," jelas Kepala Desa.
Namun, penanganan darurat tersebut jelas bukan solusi jangka panjang. Hingga kini, pemerintah desa mengaku belum menerima informasi apa pun terkait rencana maupun estimasi waktu perbaikan dari pemerintah kabupaten.

Kondisi ini semakin memprihatinkan setelah muncul korban akibat kerusakan jalan tersebut. "Sudah ada korban, warga saya mengalami patah tulang kaki karena jalan rusak ini," tutur Kepala Desa Panusupan dengan nada prihatin. Ia berharap pemerintah kabupaten segera turun tangan dan mempercepat penanganan sebelum korban kembali berjatuhan.
Situasi jalan kabupaten di Panusupan ini menjadi potret persoalan klasik infrastruktur: laporan sudah disampaikan, dampak sudah nyata, korban sudah ada, namun tindak lanjut belum juga terlihat. Warga kini hanya bisa menunggu, sembari berharap keselamatan mereka tidak terus dipertaruhkan di atas jalan rusak yang seakan luput dari prioritas.