Kendal Jadi Percontohan Agroforestry Nasional, Program 1.100 Hektare Siap Dongkrak Ekonomi Petani
KENDAL – Kabupaten Kendal diproyeksikan menjadi salah satu daerah percontohan pengembangan Nature-Based Solution Agroforestry di Indonesia. Melalui program yang mencakup lahan seluas 1.100 hektare di dua desa, pemerintah bersama berbagai mitra menargetkan peningkatan kesejahteraan petani sekaligus mendukung upaya penurunan emisi karbon dan pelestarian lingkungan.
Program tersebut resmi dimulai melalui kick-off meeting dan penanaman bibit di Desa Wonosari, Kecamatan Pegandon, Rabu (29/7/2026). Kegiatan ini dihadiri Bupati Kendal Hj. Dyah Kartika Permanasari, Plt. Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian RI Heru Tri Widarto, perwakilan PT Syngenta Indonesia, PT Pupuk Indonesia, Duta Petani Milenial, Duta Petani Andalan Nasional, jajaran DPRD Kendal, Dinas Pertanian dan Pangan, serta para petani.
Dalam sambutannya, Ketua Umum Duta Petani Milenial, Rayndra Syahdan menyampaikan, program kolaborasi ini merupakan bagian dari upaya untuk menurunkan emisi karbon di Indonesia. "Melalui program kolaborasi ini, kami memiliki target sampai tahun 2050 untuk menanam sekitar 350.000 hektar lahan secara nasional. Sedangkan di Kabupaten Kendal sendiri, kami sudah melakukan survei dan total area kerja seluas 1.100 hektar yang terdiri dari dua desa, yaitu Desa Wonosari Kecamatan Pegandon dan Desa Surokonto Wetan Kecamatan Pageruyung," ujar Rayndra Syahdan.
Rayndra mengungkapkan, lahan di Desa Wonosari seluas 711 hektare dan Desa Surokonto Wetan seluas 211 hektare akan ditanami alpukat, durian, kelengkeng, matoa, kopi, serta tanaman buah bernilai ekonomi tinggi. "Rata-rata per satu hektar akan ditanam 100 sampai 150 pohon. Jadi, untuk 110 hektar diperkirakan sekitar 110.000 pohon total yang akan ditanam di Kabupaten Kendal," ungkap Ketua Umum Duta Petani Milenial Kementerian Pertanian RI.
Menurutnya, kawasan tersebut sebelumnya didominasi tanaman jagung. Namun karena berada di kawasan hutan sosial, penanaman tanaman keras menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko banjir dan longsor. "Peran Duta Petani Milenial dalam kolaborasi ini, adalah menentukan lokasi lahan yang tepat. Kemudian melakukan pendampingan kepada petani selama masa program 4 tahun, yaitu pendampingan bibit, pupuk, dan HOK/Hari Orang Kerja selama 4 tahun, dan masih banyak lagi lainnya," terang Rayndra Syahdan.
Regional Sales Manager Seed Business PT Syngenta Indonesia, Winda Sukma menegaskan, kemajuan sektor pertanian tidak dapat diwujudkan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan kolaborasi yang erat antara pemerintah, dunia usaha, komunitas petani, dan generasi muda agar pertanian Indonesia semakin maju, produktif, dan berkelanjutan. Sementara itu, PT Pupuk Indonesia melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (CSR) menargetkan penanaman pohon seluas 365.000 hektare hingga tahun 2050 sebagai bagian dari mitigasi perubahan iklim.
Bupati Kendal, Dyah Kartika Permanasari, mengapresiasi sinergi yang terjalin antara Kementerian Pertanian, PT Pupuk Indonesia, PT Syngenta, dan Duta Petani Milenial dalam mendukung pembangunan pertanian berkelanjutan di Kabupaten Kendal. "Pendekatan konvensional terkadang tidak lagi cukup untuk mengatasi kompleksitas masalah ekologis saat ini. Melalui solusi berbasis alam ini, kita berupaya memulihkan ekosistem sekaligus mendukung swasembada pangan di Kabupaten Kendal," tutur Bupati Kendal.
Bupati berharap program penanaman bibit agroforestry berstandar luas 1.000 hektare dalam jangka satu tahun ini tidak hanya mampu menjaga kelestarian lingkungan dan mencegah erosi, tetapi juga secara nyata meningkatkan kesejahteraan para petani milenial dan masyarakat sekitar.
Plt. Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian RI, Heru Tri Widarto mengatakan Indonesia sebagai produsen pupuk memiliki tanggung jawab besar dalam menekan emisi karbon melalui penanaman pohon. "Ada tanaman penyangga dan tanaman keras, sehingga emisi yang mereka hasilkan nantinya bisa diserap kembali oleh pohon-pohon yang kita tanam," ujar Heru Tri Widarto. Ia menambahkan, "Dengan menggabungkan modernisasi pertanian serta pemanfaatan teknologi berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence), sektor pertanian diharapkan menjadi lebih mudah dan menarik bagi anak muda," ujar Heru Tri Widarto. Selain itu, pemerintah juga terus mendorong pengembangan tujuh komoditas perkebunan utama, termasuk kopi dan tebu yang dinilai memiliki potensi besar di Kendal. "Khusus untuk wilayah Jawa Tengah dan Kendal, program ini sangat memungkinkan untuk melibatkan para petani dalam pengembangan tanaman keras seperti kopi dan tebu, yang diharapkan mampu mendongkrak kesejahteraan petani serta memperkuat perekonomian nasional," tutur Heru Tri Widarto.
Kegiatan ditutup dengan penanaman bibit secara simbolis sebagai tanda dimulainya gerakan agroforestry di Kabupaten Kendal. Program ini diharapkan menjadi contoh pengembangan pertanian berbasis alam yang mampu memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan kesejahteraan petani, sekaligus mendukung target penurunan emisi karbon nasional.( )