Milangkala Ke 47 Desa Cempaka Mekar: Lebih Dari Perayaan, Momen Refleksi Dan Bangkitkan Kemandirian
Sorotnuswantoro.com-BANDUNG BARAT Memperingati hari jadi atau Milangkala ke-47 Desa Cempaka Mekar, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Pemerintah Desa menggelar serangkaian acara yang dirancang tidak hanya sebagai perayaan seremonial, melainkan menjadi ruang refleksi sejarah sekaligus pembentukan karakter masyarakat yang mandiri dan berdaya saing.
Rangkaian kegiatan ini dibagi menjadi dua agenda utama. Tepat pada hari peringatan, yakni 5 Juli 2026, Pemerintah Desa bersama seluruh warga melaksanakan kegiatan keagamaan berupa takziah, tahlilan, dan doa syukuran bersama sebagai wujud rasa terima kasih atas perjalanan panjang desa. Sementara itu, acara puncak yang dikemas lebih meriah akan diselenggarakan pada 11 Juli 2026, dengan menampilkan pagelaran seni budaya khas daerah, yaitu Wayang Golek.
Kepala Desa Cempaka Mekar, Agus Restiawan, menegaskan bahwa esensi utama peringatan ini adalah merawat ingatan kolektif masyarakat terhadap sejarah perjuangan desa. Menurutnya, Desa Cempaka Mekar tidak terbentuk secara instan, melainkan lahir dari cucuran keringat, pengorbanan, dan dedikasi para pemimpin serta warga terdahulu.
“Kegiatan ini bertujuan mengenang jasa para pendahulu yang telah membangun dan memimpin Desa Cempaka Mekar menuju kondisi yang lebih baik. Salah satu bukti nyata warisan mereka yang kini kita nikmati bersama adalah infrastruktur jalan desa yang sudah cukup memadai. Melalui momen ini, kami ingin generasi muda lebih menghargai sejarah dan memahami asal-usul tanah kelahirannya,” ujar Agus.
Dalam kesempatan itu, Kades Agus juga menyampaikan bahwa kemajuan desa tidak bisa hanya bergantung pada satu pihak saja. Ia mengapresiasi antusiasme warga dalam menyambut Milangkala, namun mengingatkan bahwa kecintaan terhadap desa harus dibuktikan dengan kontribusi nyata, bukan hanya hadir dalam perayaan semata.
“Membangun desa tidak cukup hanya mengandalkan Kepala Desa. Kami sangat membutuhkan pemikiran, sumbangsih, dan ide-ide kreatif dari seluruh elemen masyarakat—mulai dari tokoh pemuda, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga lembaga desa. Kemajuan atau kemunduran desa ada sepenuhnya di tangan warganya sendiri,” tegasnya.
Lebih lanjut, Agus memanfaatkan momen ini untuk menyampaikan pesan edukatif yang mendalam. Ia menyoroti fenomena sosial yang berkembang belakangan ini, di mana sebagian warga cenderung terjebak dalam pola pikir yang selalu mengandalkan bantuan sosial, ketimbang berusaha membangun kemandirian ekonomi.
“Harapan saya, warga Cempaka Mekar harus berpikir cerdas dan kritis. Jangan terjebak dalam pola pikir yang menganggap bahwa berjuang itu hanya untuk mendapatkan bantuan. Ini adalah pola pikir yang keliru dan justru bisa merusak mentalitas kemandirian kita,” tegasnya dengan lugas.
Ia menjelaskan bahwa ketergantungan berlebihan terhadap bantuan dapat menjadi bentuk “pembodohan” terselubung yang menghambat pertumbuhan ekonomi warga. Sebagai gambaran, ia mencontohkan skema bantuan komoditas seperti minyak goreng.
“Jika warga menerima bantuan 2 liter minyak goreng, yang mendapat manfaat dalam skala besar justru adalah produsennya, bukan warga secara berkelanjutan. Apakah di sini ada warga yang memiliki pabrik minyak? Tentu belum ada. Maka, kita harus melihat peluang yang bisa menggerakkan roda ekonomi sendiri,” jelasnya.
Menutup sambutannya, Agus mengingatkan bahwa tantangan zaman telah berubah. Penjajahan di era modern tidak lagi menggunakan senjata, melainkan melalui sistem yang menciptakan ketergantungan mental dan ekonomi. Oleh karena itu, ia berharap Milangkala ke-47 ini menjadi titik balik bagi seluruh warga.
“Mari jadikan momen ini sebagai awal untuk membangun masyarakat yang cerdas, kritis, dan memiliki kemandirian ekonomi. Dengan begitu, setiap program pembangunan desa yang direncanakan dapat berjalan efektif dan memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan seluruh warga Desa Cempaka Mekar.