Hafidzin: Kepala Dusun Yang Pergi Setelah Menuntaskan Cintanya Untuk Tembelang

Hafidzin: Kepala Dusun Yang Pergi Setelah Menuntaskan Cintanya Untuk T
21-May-2026 | sorotnuswantoro Kendal , Jawa Tengah

(Alm) Hafidzin, Kadus Tembalang, Desa Sidodadi, Patean

oleh : Ali Mashar

KENDAL- Di sebuah dusun kecil bernama Tembelang, di lereng perbukitan Kendheng Desa Sidodadi, hidup seorang lelaki sederhana yang sepanjang hidupnya tidak pernah meminta dikenang sebagai tokoh besar. Ia hanya menjalani tugasnya dengan tenang, sebagaimana air mengalir di sungai-sungai desa: tidak banyak suara, tetapi menghidupi sekelilingnya.

Namanya Hafidzin. Lahir pada 13 Mei 1966, beliau mulai mengabdi sebagai Kepala Dusun Tembelang pada tahun 2001, di usia yang masih sangat muda untuk ukuran seorang pemimpin kampung: 35 tahun. Latar belakang hidupnya banyak ditempa di lingkungan pesantren di wilayah Kendal. Karena itulah, masyarakat mengenalnya bukan hanya sebagai perangkat desa, tetapi juga sebagai seorang santri, pemuka agama, dan imam masjid.

Sosok yang memadukan ketegasan seorang pemimpin dengan kelembutan seorang guru mengaji. Kombinasi seperti itu hari ini terasa semakin langka.

Selama seperempat abad memimpin Dusun Tembelang, Pak Hafidzin tidak pernah membangun citra tentang dirinya sendiri. Ia membangun dusunnya.

Sedikit demi sedikit. Pelan tetapi pasti. Tembelang yang dahulu dikenal cukup tertinggal dan terisolir perlahan bangkit mengejar ketertinggalan. Jalan penghubung Tembelang–Pakeman yang sempat lumpuh akibat longsor akhirnya dapat kembali dilalui berkat perjuangannya melalui program PNPM Mandiri. Gang-gang sempit yang dulu becek kini telah dibeton hampir di setiap sudut dusun. Masjid Tembelang berdiri megah melalui semangat swadaya masyarakat yang ia rawat dengan penuh kesabaran. Gedung TPQ yang layak juga lahir di masa kepemimpinannya.

Namun warisan terbesar Pak Hafidzin sesungguhnya bukanlah beton, bangunan, atau jalan. Warisan terbesarnya adalah manusia.

Dalam 10 hingga 15 tahun terakhir, Tembelang tumbuh menjadi dusun yang dikenal sebagai “gudangnya santri” di wilayah Sidodadi. Tetapi bukan hanya itu. Anak-anak muda Tembelang juga mulai menunjukkan kualitas akademik formal yang mengagumkan. Mereka mampu bersaing, setara, bahkan dalam banyak hal lebih unggul dibanding dusun-dusun lain. Perlahan kualitas pendidikan itu mengangkat taraf ekonomi masyarakat.

Rasa minder sebagai warga dusun terpencil mulai hilang. Yang tumbuh adalah rasa percaya diri dan kebanggaan. Dan semua itu lahir dari kepemimpinan yang sederhana, inklusif, dekat dengan rakyat, tetapi tetap tegas pada prinsip.

Puncak pengabdiannya datang di penghujung masa jabatan. Pak Hafidzin tidak pernah terlihat seperti tokoh besar. Tetapi justru itulah yang membuatnya besar.

Ia berhasil mengawal pembangunan jalan beton kabupaten penghubung Tembelang–Kalimargosari dengan kualitas terbaik. Dan yang paling membekas dalam ingatan masyarakat adalah hadirnya Jembatan Merah Putih — sebuah program khusus dari Kapolri melalui Kapolres Kendal — yang menjadi satu-satunya di Kabupaten Kendal dibangun di Dusun Tembelang.

Seolah alam telah menulis takdirnya dengan sangat rapi. Jembatan itu selesai tepat waktu. Diresmikan secara megah oleh Bupati Kendal dan Kapolres Kendal pada 13 Mei 2026.

Hari itu bukan hanya peresmian jembatan. Hari itu adalah ulang tahun Pak Hafidzin yang ke-60. Hari itu juga adalah hari terakhir pengabdiannya sebagai Kepala Dusun setelah 25 tahun menjabat. Sebuah akhir yang nyaris terlalu indah untuk disebut kebetulan.

Di hari itu, ia seperti memberikan hadiah terakhir untuk masyarakat yang ia cintai: kebanggaan. Bahwa Tembelang hari ini bukan lagi dusun yang tertinggal. Bahwa warga Tembelang bisa berdiri sejajar dengan siapa pun. Bahwa mereka pantas merasa bangga menjadi orang Tembelang.

Dan mungkin, pada hari itu pula, tugas hidupnya terasa telah selesai. Tepat tujuh hari setelah peristiwa bersejarah itu, dalam suasana peringatan Hari Kebangkitan Nasional, kabar duka datang begitu mendadak.

Pada (20 Mei 2026), Pak Hafidzin meninggal dunia akibat sebuah insiden tunggal di lokasi yang tidak jauh dari Jembatan Merah Putih — tempat yang baru saja menjadi panggung terakhir pengabdiannya. Seolah ada bagian dari dirinya yang memang enggan pergi jauh dari tempat itu.

Dusun Tembelang mendadak sunyi. Warga kehilangan bukan hanya seorang kepala dusun. Mereka kehilangan penjaga kampungnya. Kehilangan seorang imam. Kehilangan seorang bapak. Dan yang paling menyakitkan, mereka baru benar-benar menyadari betapa besar arti sosok itu justru setelah ia tiada.

Pak Hafidzin pergi dalam keadaan yang mungkin diimpikan banyak pemimpin: meninggalkan jabatan dengan kehormatan, meninggalkan masyarakat dalam keadaan bangkit, dan meninggalkan nama baik yang nyaris tanpa cela.

Ia tidak kaya raya. Ia tidak terkenal di ruang publik. Namanya mungkin tidak tercatat dalam buku-buku sejarah besar.

Tetapi di hati masyarakat Tembelang, Hafidzin adalah sejarah itu sendiri. Karena sejatinya, pemimpin bukanlah tentang siapa yang paling banyak bicara. Pemimpin adalah tentang siapa yang paling lama bertahan menjaga harapan warganya. Dan selama 25 tahun, Pak Hafidzin melakukan itu dengan setia.

Selamat jalan, Pak Hafidzin. Kini kami mengerti, bahwa di akhir masa hidupmu, engkau bukan sekadar kepala dusun.

Engkau adalah simbol paling sederhana tentang bagaimana seorang pemimpin seharusnya hidup: mengabdi tanpa banyak meminta, bekerja tanpa banyak mengeluh, lalu pergi setelah memastikan rakyatnya mampu berdiri dengan bangga.

Tembelang akan selalu mengingatmu.(*)

Tags