Menjadi Mimpi Buruk Siswa Yang Menjadi Target Keracunan Sppg Gubuk Grobogan
Grobogan, sorotnuswantoro.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang meningkatkan gizi pelajar justru berubah menjadi mimpi buruk di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Ratusan siswa dari berbagai jenjang pendidikan dilaporkan tumbang massal usai mengonsumsi makanan yang diduga berasal dari SPPG Gubug, Grobogan Jawa Tengah.
Data resmi dari UPTD Korwil Pendidikan dan Puskesmas Gubug, mengungkap, korban bukan hanya santri pesantren, melainkan juga siswa sekolah dasar di sejumlah desa. Mereka mengalami gejala serius seperti mual hebat, muntah, pusing, hingga diare, dan sebagian harus menjalani perawatan medis intensif.
Rincian korban dari sekolah dasar menunjukkan skala kejadian yang mengkhawatirkan adalah :
SDN 1 Penandaran: 57 siswa
SDN 3 Penandaran: 40 siswa
SDN 2 Penandaran: 28 siswa
SDN 1 Trisari: 30 siswa
SDN 2 Trisari: 24 siswa
SDN Glapan: 13 siswa
Sementara dari lingkungan pesantren, laporan Puskesmas mencatat:
SMP Miftahul Huda: 208 siswa (116 putri, 92 putra)
SMK Miftahul Huda: 52 siswa (35 putri, 17 putra)
Total korban sementara menembus ratusan siswa, memperlihatkan bahwa dugaan keracunan ini bukan insiden kecil, melainkan kejadian luar biasa (KLB) yang mengancam keselamatan anak-anak.Sabtu,10/1/2026.
Para korban dilarikan ke berbagai fasilitas kesehatan, termasuk RSUD Grobogan, RS Getas Pendowo Gubug, serta sejumlah puskesmas di wilayah sekitar. Hingga kini, sampel makanan MBG telah diamankan untuk uji laboratorium.
Insiden ini langsung memantik kemarahan publik. Banyak pihak mempertanyakan standar keamanan pangan, proses pengolahan, serta pengawasan distribusi MBG oleh SPPG Gubug. Program yang dibiayai negara itu kini dituntut dievaluasi total, termasuk kemungkinan kelalaian dalam pelaksanaan.
Meski demikian, aparat dan instansi terkait masih melakukan penyelidikan. Pihak sekolah dan pemerintah daerah mengimbau masyarakat tidak berspekulasi dan menunggu hasil resmi uji laboratorium.
Satu hal yang pasti, kasus ini menjadi alarm keras: ketika program “bergizi” justru membuat ratusan anak jatuh sakit, negara wajib hadir dan bertanggung jawab.
( Windi )