Haru Wisuda Purna Bakti Polres Tulungagung, 26 Personel Dilepas Dengan Pedang Pora Dan Becak
TULUNGAGUNG – Suasana haru menyelimuti halaman Mapolres Tulungagung, Rabu (31/12/2025). Bukan sekadar prosesi kenaikan pangkat, hari itu menjadi momentum perpisahan penuh makna bagi 25 personel Polri dan 1 Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang resmi memasuki masa purna tugas.
Dalam rangkaian Wisuda Purna Bakti, Polres Tulungagung memberikan penghormatan terakhir atas pengabdian panjang para personel yang telah mendedikasikan sebagian besar hidupnya untuk institusi dan masyarakat. Tradisi kehormatan Pedang Pora hingga pelepasan simbolis dengan menaiki becak menjadi bagian dari prosesi yang sarat makna.
Kapolres Tulungagung, AKBP Muhammad Taat Resdi, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para purnabakti. Dengan suara bergetar menahan emosi, ia menegaskan bahwa pengabdian yang telah diberikan bukanlah perjalanan singkat.
“Ini merupakan pengabdian yang sangat panjang. Banyak suka dan duka yang telah dilalui, terutama dalam menjalankan tugas sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat,” ujar AKBP Muhammad Taat Resdi.
Menurutnya, dedikasi para purnawirawan tidak sekadar tercatat sebagai pekerjaan, melainkan wujud pengabdian jiwa dan raga dalam menjaga keamanan serta ketertiban masyarakat. Ucapan terima kasih pun disampaikan atas nama seluruh keluarga besar Kepolisian.
Puncak keharuan terjadi saat para purnawirawan, didampingi istri dan keluarga, berjalan perlahan melewati barisan Pedang Pora—simbol penghormatan tertinggi—menuju gerbang Mapolres. Di titik tersebut, mereka dilepas secara simbolis dengan menaiki becak.
Tradisi becak ini memiliki filosofi mendalam, melambangkan kembalinya para purnawirawan ke tengah masyarakat dalam kesederhanaan, setelah puluhan tahun mengabdi dalam balutan seragam kebesaran Polri. Momen tersebut tak kuasa membendung air mata, baik dari keluarga, personel yang hadir, maupun para purnawirawan itu sendiri.
Meski telah menanggalkan seragam dinas, Kapolres menitipkan pesan yang menyentuh hati:
“Jangan berhenti mengabdi, karena saudara hanya pensiun dari pekerjaan, bukan dari pengabdian.”
Pesan tersebut menjadi penutup penuh makna, menegaskan bahwa semangat pengabdian para purnawirawan akan terus hidup dan menyatu bersama masyarakat.
(frn)